ISLAM dan SISTEM EKONOMI SYARIAH

23 11 2011

Islam adalah agama sempurna yang mengatur dan memberi pedoman bagi manusia baik dalam beribadah kepada ALLAH SWT maupun dalam berinteraksi dengan sesama makhluk. Inti ajaran agama Islam terdiri dari 3, yaitu Aqidah, Syariah, dan Akhlaq. Esensi Aqidah adalah keyakinan pemeluk Islam terhadap ke-esa-an (tauhid) ALLAH SWT, yaitu perbuatan yang menghilangkan segala bentuk kekuatan (keberadaan) melainkan kekuatan ALLAH SWT sebagai yang Esa. Selanjutnya, inti Aqidah ini dijabarkan dalam aturan-aturan Syariah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah dan diimplementasikan dalam bentuk akhlaq yang islami.

Salah satu ajaran yang sangat penting dalam agama Islam adalah tentang mu’amalah atau iqtishadiyah (Ekonomi Islam). Aqidah, Syariah, dan Akhlaq menjiwai dalam penerapan dan pengembangan sistem ekonomi Islam atau ekonomi syariah. Sistem ekonomi syariah merupakan sistem ekonomi yang mandiri, bukan diadopsi dari ekonomi liberal, komunis, kapitalis dan sebagainya. Berbagai prinsip dasar yang berlaku di ekonomi syariah adalah berdasar aturan Syariah, di antaranya adalah Kejujuran (al-Shidq), Kesetaraan (al-Musawah), dan Keadilan dan Kebenaran (al-‘adhilah).

Implementasi kongkrit sistem ekonomi syariah diwujudkan dalam bentuk terjadinya berbagai transaksi (akad) yang dilakukan antar individu atau kelompok. Oleh karena itu, suatu transaksi dinyatakan sebagai transaksi syariah jika dilakukan berlandas pada 3 inti ajaran Islam, yaitu Aqidah, Syariah, dan Akhlaq. Berbagai jenis transaksi syariah telah dilakukan di masa kejayaan Islam, antara lain murabahah, mudharabah, salam, istishna‘, ijarah, dsb. Dalam ekonomi syariah, penerapan akuntansi merupakan keniscayaan. Diduga kuat, pengetahuan akuntansi yang selama ini diklaim merupakan produk negara barat sebenarnya merupakan produk pengetahuan yang dikembangkan oleh pemikir Islam.

A.    ISLAM

Islam adalah agama yang mempunyai arti ‘penyerahan diri kepada ALLAH SWT yang merupakan Tuhan semesta alam’. Dengan kata lain, Islam merupakan agama yang menganut monotheisme atau menganut satu Tuhan, yaitu ALLAH SWT. Esensi dari Islam adalah ketauhidan atau peng-esa-an ALLAH, yaitu perbuatan yang menghilangkan segala bentuk kekuatan (keberadaan) melainkan kekuatan ALLAH SWT sebagai yang Esa.

B.    INTI AJARAN ISLAM

Islam berlandas pada 3 inti ajaran,  yaitu Aqidah, Syari’ah, dan Akhlak. Berikut ini uraian singkat tentang ketiga azas Islam.

B.1.   Aqidah

Inti dasar dan primer ajaran Islam adalah tentang Aqidah (‘aqd) yang berarti pengikatan. Seseorang yang memeluk Islam sebagai keyakinan maka dengan sendirinya mengikatkan hati dan diri terhadap Islam. Aqidah adalah landasan agama Islam yang fundamental serta merupakan syarat sahnya amal perbuatan pemeluk agama Islam. Sebagaimana firman ALLAH SWT dalam Q.S. Az-Zumar:65,

B.2.   Syari’ah

Inti ajaran berikutnya di agama Islam berupa Syariah. Dalam konteks hukum Islam, syari’ah adalah aturan yang bersumber dari nash yang qat’ie dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah (jelas penyebutannya, baik lafadz dan maknanya). Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan ALLAH SWT kepada umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya, Al-Sunnah adalah seluruh perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhammad SAW yang kemudian dijadikan sumber hukum. Keberadaan Al-Sunnah adalah mempertegas hukum dalam Al-Qur’an, memperjelas hukum dalam Al-Qur’an dan menetapkan hukum yang belum diatur atau ada di dalam Al-Qur’an. Pada dasarnya Al-Qur‘an dan Al-Sunnah merupakan penjabaran yang memberikan pedoman untuk memenuhi ajaran inti Aqidah.

B.3.   Akhlaq

Merujuk pada Al-Munjid fi al-Lughah wa al-I’lam, Yunahar Ilyas (2009) menyatakan bahwa akhlaq adalah bentuk jamak khuluq yang maknanya adalah budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Dengan demikian, akhlaq merupakan wujud kongkrit yang ditampilkan oleh setiap pemeluk agama Islam. Inti ajaran akhlaq ini memberi pedoman bagi pemeluk agama Islam dalam berperilaku. Akhlaq pemeluk agama Islam diharapkan berupa perilaku yang berlandas aturan-aturan Syariah dalam rangka pencapaian ajaran inti, yaitu Aqidah. Atau dengan kalimat lain, inti ajaran Aqidah dan Syariah menjadi pegangan dalam pengembangan akhlaq setiap umat Islam dalam menjalani kehidupan sebagai khalifah di muka bumi ini.

CKETERKAITAN ANTARA 3 INTI AJARAN ISLAM

Ketiga ajaran inti Islam, yaitu Aqidah, Syariah, dan Akhlaq, ”terkait satu sama lain, tidak dapat dipisah-pisahkan …. karena ketiganya diperlukan untuk membentuk kepribadian yang utuh pada diri seorang muslim.” (Nurhayati dan Wasilah, hal. 17, 2009). Selanjutnya, Nurhayati dan Wasilah (2009) mengibaratkan keterkaitan antara 3 ajaran inti Islam sebagai sebuah bangunan (lihat Peraga 1.1).

Ketiga ajaran inti tersebut memiliki keterkaitan dan hirarki yang jelas. Ajaran inti dan primer adalah berupa Aqidah yang diuraikan dan dijabarkan lebih lanjut dalam ajaran inti kedua berupa Syariah. Selanjutnya ajaran inti Akhlaq merupakan implementasi azas Aqidah dan Syariah yang seharusnya tercermin dalam setiap tingkah-laku  umat agama Islam.

D. SISTEM EKONOMI SYARIAH

Salah satu ajaran yang sangat penting dalam agama Islam adalah tentang mu’amalah dalam arti sempit yang dikenal dengan istilah iqtishadiyah (Ekonomi Islam), sedang mu’amalah dalam arti luas mencakup munakahat (pernikahan), warisan, politik (perang), pidana dan termasuk di dalamnya adalah ekonomi Islam atau iqtishadiya (lihat Husein Shahhatah, Al-Iltizam bith-Thawabith asy-Syar’iyah fil Mu’amalah al-Maliyah. Mesir. 2002) . Torrey (Charles Cutler Torrey, ’The Commercial Theological Terms in the Koran’ : 1892, Penerbit Kessinger Publishing, LLC. 2009) dalam disertasinya yang berjudul ’The Commercial Theological Terms in the Koran’ menyatakan bahwa Al-Qur’an menggunakan terminologi bisnis dengan 20 (dua puluh) penyebutan yang berbeda-beda serta 370 kali dalam berbagai ayat. Menurut Muhammad Quraish Shihab (dalam Zaki Fuad Chalil, 2009; hal. 10-11), „terdapat 77 ayat Al-Qur’an yang membicarakan aktivitas ekonomi manusia baik yang secara langsung menegaskan prinsip-prinsip ekonomi Islam, maupun pengertian yang tersirat dalam ayat-ayat hukum atau kisah para Nabi dan Rasul serta orang terdahulu yang diinformasikan Al-Qur’an.“ Penggunaan terminologi dan pembahasan tentang bisnis (ekonomi) yang sedemikian banyak di Al-Qur’an menunjukkan betapa pentingnya peranaan ekonomi dalam menjalani kehidupan secara Islam. Juga, dalam kitab Al-Mu’amalah fil Islam, Abdul Sattar Fathullah Sa’id (Fiqh Mu’amalah Raja Grafindo Persada. Jakarta.2007.) mengatakan ”Di antara unsur dharurat atau dharuriyah basyariyah (urgen) dalam masyarakat adalah mu’amalah, yang mengatur hubungan antara individu dan masyarakat dalam kegiatan ekonomi.” Sehingga manusia wajib (fardhu ’ain) mempelajari dan memahami mu’amalah, agar tidak terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat yang tanpa disadari (lihat Husein Shahhatah, Al-Iltizam bith-Thawabith asy-Syar’iyah fil Mu’amalah al-Maliyah. Mesir. 2002).

E. PRINSIP DASAR SISTEM EKONOMI SYARIAH

Pengembangan sistem ekonomi syariah berlandas pada prinsip-prinsip dasar yang telah dibahas dibanyak literatur yang pada dasarnya berdasar pada Syariah, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

E.1. Kejujuran (Al- Shidq)

Kejujuran adalah ruh dari sistem ekonomi syariah, dan harus menjadi ruh pula bagi setiap stakeholders dalam melakukan aktivitas muamalah syariah. Kejujuran menjadi bukti adanya komitmen akan pentingnya perkataan, tindakan dan semua yang terkait dengan perikatan dalam sistem ekonomi syariah sehingga dapat dijadikan pegangan, yang pada gilirannya akan memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat langsung dalam akad (perikatan) dan juga bagi masyarakat dan lingkungan. Jika kejujuran tidak diterapkan dalam sistem ekonomi syariah, maka akan merusak semua aktifitas yang yang terjadi pada sistem ekonomi syariah (Gemal Dewi, Wirdayaningsih, dan Yeni Salma Barlianti, 2005).

E.2. Kesetaraan (Al-Musawah)

Kesetaraan antar para pihak pemangku kepentingan (stakeholders) menjadi nilai utama sehingga tidak ada pihak yang merasa memiliki posisi lebih tinggi dari pihak lainnya; semua stakeholders memperoleh keuntungan dari muamalah yang dilakukan. Dengan kesetaraan juga menjadi jalan untuk saling mempercayai yang dituangkan dalam suatu akad dan menjadi faktor penentu bagi kesuksesan para pihak yang terkait dengan hak dan kewajiban sehingga tidak saling merugikan antar para pihak, ada kesediaan membentuk hubungan dan mau bekerja sama.

E.3. Keadilan dan Kebenaran (Al-‘adhilah )

Keadilan dan kebenaran menjadi penting dalam proses pelaksanaan transaksi dari sebuah perjanjian dalam sistem ekonomi syariah karena ketiadaan rasa keadilan akan mempengaruhi hasil dari tranksaksi tersebut. Misalnya dalam tranksaksi jual beli atau sewa, maka faktor keadilan dan kebenaran menjadi penting untuk saling dirasakan antar para pihak.

F. RAGAM TRANSAKSI DI SISTEM EKONOMI SYARIAH

Sistem ekonomi syariah bergerak dinamis melalui kegiatan transaksi atau yang lazim dituangkan dalam bentuk akad. Dalam muamalah, semua jenis transaksi pada dasarnya diperbolehkan, kecuali yang dinyatakan dilarang secara syariah. Dengan demikian, berbagai ragam transaksi akan selalu berkembang secara dinamis seiring dengan perkembangan hubungan antar manusia. Berikut ini contoh transaksi syariah yang lazim diterapkan.

F.1.    Akad Al-Mudharabah atau Bagi Hasil (Profit-and-Loss-Sharing).

Model ini mengajak pemilik dana ikut serta dalam suatu usaha. Pemilik dana akan mendapatkan bagian dari keuntungan sesuai dengan rasio yang ditetapkan sebelumnya. Secara teknis, al-mudharabah adalah akad kerja-sama usaha antara dua pihak, di mana pihak pertama menyediakan seluruh (100 persen) dana, sedangkan pihak lain menjadi pengelola dana. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik dana selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian dalam pengelolaan. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian dari pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

F.2.    Akad Al-Musyarakah atau Persekutuan (Partnership)

Model akad ini terjadi jika terdapat kerja sama antara minimal 2 pihak untuk suatu usaha tertentu. Para pihak yang bekerja sama memberikan kontribusi dana. Keuntungan ataupun risiko usaha tersebut akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Secara konkret, bila ada suatu pihak memiliki usaha dan ingin mendapatkan tambahan modal, pihak tersebut bisa menggunakan produk al-musyarakah ini. Inti dari pola ini adalah, terdapat beberapa individu yang bertindak sebagai pemilik sekaligus sebagai pengelola dana dalam menjalankan usaha yang syariah.

F.3.    Akad al-Murabahah

Al-Murabahah adalah jual beli suatu barang pada harga pokok (cost of goods sold) dengan tambahan keuntungan yang nilainya disepakati kedua belah pihak. Penjual dalam hal ini harus memberitahu harga pokok barang yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahan. Sebagai contoh, pembeli membutuhkan sepeda motor merek H, maka penjual harus menyampaikan harga pokok kendaraan tersebut dan kemudian menyampaikan margin keuntungan yang diharapkan dari transaksi jual-beli kendaraan tersebut.


G. KEBERADAAN AKUNTANSI SYARI’AH

Dalam sejarah Islam, disebutkan bahwa pada masa Rasulullah Muhammad SAW telah dibentuk sebuah tim pengawas keuangan (hafadhatul amwal). Tim ini meskipun bersifat personal tetapi hal tersebut merupakan embrio munculnya institusi pengawas keuangan secara kelembagaan di masa kepemimpinan khulafaur rasyidin (kepemimpinan Abu Bakar r.a, Umar r.a, Utsman r.a, dan Ali r.a).

Untuk menjamin kelancaran akad Syariah maka diperlukan akuntansi yang berperan untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi. Arti penting penerapan akuntansi secara jelas sebagaimana Firman ALLAH SWT yang tercantum dalam Q.S. Al-Baqarah:282,

Untuk lebih lengkapnya penjelasan mengenai hal di atas, saudara bisa membaca  buku “Akuntansi Syariah : Akad di lembaga bukan Bank” Karangan Dr. Sony Warsono, MAFIS, Ak dan Jufri, SH.I., M.Hum (saya sendiri penulisnya). Di buku ini akan dibahas beberapa jenis transaksi yang terkait dengan akad jual-beli, khususnya Akad Murabahah, Salam, dan Istishna’. serta persoalan-persoalan terkait peraturan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang diatur oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Diterbitkan oleh Ashgard Chapter Yogyakarta


Aksi

Information

One response

23 11 2011
big sugeng

Saya banyak belajar dari blog ini
makasih Mas Jufri
sukses selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: