Substansi Zakat (Sebuah Analisa Spritualitas, Sosial dan Ekonomi)

30 11 2007

 

Islam adalah Agama yang menekankan kepada dua pola hubungan. Hubungan yang bersifat Vertikal dan Horisontal, hal ini dapat kita buktikan dengan kembali membuka dan menelaah al-Qur’an dan al-Hadits. Pola hubungan yang bersifat vertikal, dimana seorang muslim harus melakukan ritual keagamaan (Sholat lima kali) dalam sehari semalan dan amalan (wajib) lainnya. Namun, pola pertama tersebut tidak akan ada hasilnya (manfaat) tanpa berimplikasi pada kesolehan sosial sebagai Pola bubungan Horisontal. Artinya, Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia (tersimpul di dalamnya lantunan hubungan dengan alam).1 Hubungan manusia dengan Allah tergambar dari ketaatan manusia menjalankan perintah wajib (mahdhoh), sedang refleksi hubungan tersebut bagaimana manusia menjaga intraksi secara baik dengan sesama manusia dan makhluk lainnnya. Manusia yang tidak menjaga hubungan sesama manusia, maka Ia akan di hinakan oleh Allah.2 bagaimana hubungan yang kaya (Muzakki) dengan si Papa (yang lemah), dengan ikut merasakan kepedihannya. Tapi, hal itu tidaklah cukup, namun ada realisasi dengan memberikan bantuan seperti perintah dalam Islam Infaq, Shodaqoh dan Zakat. Infaq dan Shodaqoh adalah sesuatu yang tidak menjadi kewajiban yang di paksakan, tetapi berbeda dengan Zakat sebagai perintah yang sudah baku ukuran (nishob) dan kepada siapa di wajibkan dan di paksakan (muzakki) serta kepada siapa (Mustahiq) di bagikan (distribusinya). Adapun dari segi jumlah yang harus dibayarkan , berupa jumlah tertentu yang tidak boleh kurang ataupun lebih.3 Sedang kepada siapa dikumpulkan (baitul maal) dan pendistribusiannya telah jelas (8 mustahiq).

Zakat adalah pondasi ke-Empat dari bangunan Agama (Islam)4 dan menjadi zdikir (bacaan) bagi anak didik sejak pertama belajar tentang agama Islam. Kurang lebih delapan puluh dua ayat perintah Allah (al-Qur’an) tentang sholat sering di kaitkan dengan zakat. Kita tahu, sholat adalah tiang agama, barang siapa mendirikan sholat maka Ia telah ikut andil dalam mendirikan Agama, tapi barang siapa meninggalkannya maka hakikatnya merobohkan agama.5 Seperti halnya dengan zakat bagi orang yang mampu, maka melaksanakannya menjadi tolok ukur dari ketaatannya terhadap agama, dikala Ia tidak melaksanakannya, maka hakikatnya, Ia telah menyia-nyiakan agama. Sholat sebagai refleksi dari kesolehan agama, sedang zakat adalah refleksi kesolehan sosial sebagaimana interpretasi refleksi akan substansi Agama di turunkan oleh Allah ke dunia. Masdar F Mas’udi mengatakan bahwa penggandengan kedua perintah itu mengandung makna yang sangat dalam. Perintah sholat, dimaksudkan untuk meneguhkan keislaman jati diri Manusia sebagai hamba Allah (Abdullah) pada dimensi Spiritualitasnya yang bersifat personal. Sedang perintah Zakat, dimaksudkan untuk mengaktualisasikan jati diri Manusia pada dimensi etis dan moralitasnya yang terkait pada realitas sosial sebagai khalifatullah.6 Keduanya tidak bisa terpisahkan. Yang pertama, merupakan sisi pencarian personal yang subyektif dan transenden terkait dengan Tuhan sebagai obyek pencarian. Sedang yang kedua, sisi keislaman yang terkait dengan Tuhan sebagai obyek cita pencarian sosial yang obyektif dan Immanen.7 Zakat sebagai perintah yang selalu di gandengkan dan dikaitkan dengan sholat tidak meragukan lagi bagi kita untuk mengatakan bahwa zakat itu sesuatu yang penting (urgent) dalam kehidupan ini. Dimana (pelaksanaan) sholat tidak bisa di tinggalkan dalam keadaan apapun, maka zakat pun demikian bagi yang kena kewajiban (Muzakki). Penggandengan perintah tersebut menggambarkan bahwa hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia, tidak boleh di abaikan, kedua ibadah shalat dan zakat adalah turut sebagai penentu arah kehidupan manusia, sesudah mengucapkan dua kalimat syahadat.8 Hubungan dengan Allah telah terjalin dengan ibadah shalat dan hubungan dengan sesama manusia telah terikat dengan infak dan zakat. Hubungan vertikal dan horisontal perlu dijaga dengan baik. Hubungan keatas dipelihara, sebagai tanda bersyukur dan berterima kasih, dan hubungan sesama dijaga sebagai setia kawan, berbagi rahmat dan nikmat.9 Disamping karena zakat tersebut diwajibkan atas harta yang dimiliki seseorang, dimana zakat merupakan ibadah Maaliyah (harta), bukan ibadat Jasadiyah (tubuh).10 Yusuf Qordawi mengatakan dalam bukunya Al-Ibadah fi- Islam “zakat adalah ibadah Maaliyyah Ijtima’iyah yang memiliki posisi yang sangat penting, strategis dan menentukan, baik di lihat dari sisi ajaran Islam maupun dari sisi pembangunan kesejahteraan umat.11

Karena, Perintah Zakat di latar belakangi dengan realitas pendapatan (rizki) masyarakat, adanya Kesenjangan rezeki dan mata pencaharian bisa jadi hal itu memang menjadi dasar akan Zakat. Realitas pendapatan yang sering terjadi perbedaan dan kesenjangan di antara Masyarakat itu bukan hanya tinjauan sosial tapi dalam segi tinjauan teologis normatif juga di tegaskan oleh Allah SWT bahwa memang rezeki yang di berikan terhadap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda, ada yang di lebihkan dan ada yang di kurangkan .12 Terlepas bahwa perintah zakat itu sebuah keharusan (perintah wajib) yang menyimpan daya paksa dan sanksi seperti yang pernah di terapkan oleh Khalifah Abu Bakar atas landasan interpretasi yuridis (fiqh) firman Allah (al-Qur’an). Namun, perlu kita lihat bahwa, Pendapatan yang berbeda, berimplikasi terhadap pranata sosial masyarakat yang berimbas terhadap nilai sosial yang tinggi atau rendah.

Kesenjangan sosial yang terbentuk akibat adanya perbedaan penghasilan baik karena faktor (nasib) untung atau karena kesempatan atau karena (punya) modal, menjadi faktor utama dalam membentuk paradigma tersebut. Perbedaan tingkat sosial sehingga menjadi pranata yang kian hari makin nampak dan menjadi doktrin yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Akhirnya ada lapisan Masyarakat bawah masyarakat menegah dan atas. Implikasi dari stratak sosial tersebut tidak hanya pada dataran moral tapi juga berimplikasi secara sosiologis-psikologis. Implikasi sosiologis, yang kaya merasa lebih dari yang miskin, sedang secara Psikologis hal itu menjadikan yang miskin merasa mender dari yang kaya. Bias dari realiatas seperti itu, pada dimensi sosiologis, apabila hal itu di biarkan akan berdampak pada persoalan yang lebih mendasar dan membahayakan. Karena, Secara tidak sadar Kesenjangan itu dianggap suatu ketidak adilan yang dibuat oleh Manusia (yang kaya), sehingga berpotensi terhadap konflik horisontal. Kita bisa melihat berbagai peristiwa kerusuhan walau obyektifitasnya perlu di pertanyakan, tetapi faktor ekonomi yang tidak merata dan penuh ketimpangan dan ketikadilan menjadi pemicu kesenjangan yang akhirnya berubah menjadi kecemburuan sosial yang kemudian tidak menutup kemungkinan terjadi anarkhisme. Kesenjangan itu akibat dari distribusi yang tidak merata dan kebijakan yang salah. Secara psikologis keadaan seperti itu, berimplikasi terhadap perkembangan prilaku masyarakat yang kaya dan yang miskin kian hari menjadi pembatas akan kehidupan dan kultur yang cendrung berbeda. Dengan persoalan itu menjadi suatu yang mesti, apabila zakat sebagai sistem Ekonomi yang dasar (Asasi) dalam Islam,13 menjadi suatu keharusan dalam pelaksanaanya, dan menjadi alternatif sistem ekonomi dunia.

Persoalan zakat menjadi suatu yang sangat menarik tetapi juga memprihatinkan. Pertama, Menarik, karena zakat walaupun pada dasarnya merupakan ibadah kepada Allah, bisa mempunyai arti ekonomi. Apabila zakat mempergunakan pendekatan ekonomi, maka zakat bisa berkembang menjadi konsep Mu’amalat atau kemasyarakatan, yaitu konsep tentang cara manusia melaksanakan kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam bentuk ekonomi. Apalagi kalau kita mau menulusuri riwayat turunnya kewajiban zakat, kita akan menjumpai alasan kuat untuk menghubungkan dengan konsep kemasyarakatan, bahkan juga kenegaraan.14 Di zaman Rasulullah zakat bahkan telah dilaksanakan sejak tahun ke-2 H, walau pendistribusiannya hanya pada dua kelompok orang saja (fakir-miskin), tetapi pelaksanaan secara rinci pada tahun ke-9 H.15 Berhubungan dengan soal kenegaraan, karena pada saat Rasulullah memerintahkan Mu’adz pada waktu menjadi kepala pengadilan dan wali di negeri Yaman untuk membayar dan memungut zakat, sehingga jelas zakat itu menjadi persoalan pemerintah. Kedua, Memprihatinkan, karena di masa sekarang substansi zakat terserabut dari akarnya sebagai tulang punggung perekonomian umat yang bersifat sosial dan dikembangkan menjadi sesuatu yang produktif dalam menggerakkan ekonomi serta dipisahkan dari persoalan pemerintah/ negara. Oleh karena itu dikatakan oleh Dr. Abdurrachman Qadir.MA, “Dalam sejarah, zakat difungsikan sebagai salah satu sarana pengentasan kemiskinan sebagaimana telah terbukti pada masa-masa kejayaan Islam beberapa abad lalu. Tetapi dewasa ini zakat pada umumnya dipahami dan diamalkan hanya sebagai ibadah kepada Allah semata (Ibadah mahdhah), terlepas dari konteks dan tujuan berwawasan mu’amalah ijtima’iyah, yaitu mewujudkan keadilan sosial-ekonomi. Akibatnya ibadah zakat dirasakan kehilangan vitalitas dan aktualitasnya.”16

Di masa Rasulullah gerakan dalam lapangan ekonomi ada dua (2), yakni gerakan ke dalam dan ke luar.

Zakat sebagai gerakan Ke dalam, menyusun suatu masyarakat kekeluargaan yang berdasarkan Kolektif-Kooperatif . Sedang ke luar, adalah melakukan perlawanan yang semakin lama semakin hebat dan tajam terhadap paham egoistis Yahudi yang sedang berpengaruh di Madinah pada saat itu.17 Sekarang paham itu makin mengkristal dalam kehidupan orang barat dengan sistem kapitalisnya. Dengan alasan itulah di katakan di atas bahwa latar belakang keharusan zakat sebagai salah satu rukun Islam karena adanya realitas perbedaan penghasilan masyarakat.

Not : a. Tulisa diatas hanya diambil sekilas dan singkat dari Tulisan lengkap penulis.

b. Bagi yang berminat karya lengkap dari tema diatas silahkan anda kirimkan email dan apabila memenuhi syarat akan kami kirim lewat email.


1 Drs. Sidi Gazalba.1983.Islam dan Perubahan Sosiobudaya, Kajian Islam Tentang Perubahan Masyarakat. Pustaka Al-Husna : Jakarta. Hal. 47

2 QS. 3:112

3 Taqyuddin An-Nabhani. 2000. Membangun Sistem Ekonomi Alternatif. Risalah Gusti :. Surabaya. Hal. 256

4 H. Sulaiman Rasyid. 1996. Fiqh Islam. “Islam di bangun atas dasar lima Perkara: Pertama, Dua Syahadat. Kedua, Mendirikan Sholat. Ketiga, Melaksanakan Puasa. Keempat, Membayar zakat. Kelima, Menunaikan Ibadah Haji.” Hal. 192-193 (Hadits ini di riwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Abu Hurairah yang ketika itu di datangi oleh seorang laki-laki yang tak lain adalah malaikat Jibril a.s). Dalam kitab shahih Bukhori, Juz II, Hal. 120, dikatakan bahwa zakat merupakan pilar ketiga Islam.

5 “Sholat adalah Tiang Agama, Barang siapa mendirikannya maka sesungguhnya Ia telah mendirikan Agama (Islam). Namun, barang siapa meninggalkannya maka hakikatnya merobohkannya.” Al-hadits

6 Masdar F Mas’udi dalam sebuah bukunya “Agama dan Keadilan, Risalah Zakat(Pajak) Dalam Islam” dikutip dari makalah yang di tulis oleh Maksun (Peminat Masalah Sosial Keagamaan). Mencermati Makna Ekonomi Zakat. (koran) Media Indonesia : Tanggal 15 Januari 1999.

7 Artinya membayar zakat merupakan konsekwensi dari akidah, yaitu cara dimana Manusia berkepercayaan kepada Allah. Zakat bukanlah zakat yang sebenarnya tanpa dilandasi oleh keimanan/ kepercayaan kepada Allah. Jadi, zakat dilandasi kesadaran religius, yang hanya mengharap keridhaan Allah semata dan pengabdian kepadanya.

8 M. Ali Hasan. 2000, Masail Fiqhiyah Zakat, Pajak, Asuransi dan Lembaga Keuangan,Raja Grafindo Persada : Jakarta. Hal. 4

9 Ibid. Hal. 2

10 Taqyuddin An-Nabhani. Loc.Cit.

11 Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc. 2002. Zakat Dalam Perekonomian Moderen. Gema Insani Press : Jakarta. Hal. 1

12 QS.16:71

13 KH. Abdullah Zakiy Al-Kaaf, 2002. Ekonomi Dalam Perspektif Islam. Pustaka Setia: Bandung. Hal. 121

14 Maksun.Media Indonesia.1999. Loc.Cit.

15 lihat Azbab al-Nuzuul turunnya QS. At-Taubah : 60

16 Dr. Abdurrachman Qadir, MA,1998. Zakat (Dalam Dimensi Mahdhah dan Sosial). RajaGrafindo Persada : Jakarta. Hal. Cover belakang.

17 KH. Abdullah Zakiy Al-Kaaf, 2002. Op.Cit. Hal.122


Aksi

Information

7 responses

14 04 2008
Parwati

saya, seorang yang ingin mengetahui bagaimana dimensi zakat

30 05 2008
dina

kalau bisa, tolong secepatnya saya bisa mendapatkan materi2 manajemen zakat via e-mail. bisa dikirim ke red_lopha@yahoo.com.mksi.

23 02 2009
wahyu

saya tertarik dengan masalah zakat dan sedang menulis tentang zakat apakah dapat kirim ke email saya. thanks

3 04 2009
Sutisna

Mas, saya sangat tertarik dengan tulisan-tulisan mas tentang zakat yang dapat menjadi referensi saya, kebetulan saya sedang aktif di lembaga penelitian tentang zakat. saya ingin sekali mendapatkan tulisan-tulisan lengkap mas, terutama tentang permasalahan zakat di Indonesia dan analisis zakat dari beragam dimensi. mohon dikirim ke nantropologia@yahoo.co.id

terimakasih

4 09 2011
Muhammad Megantoro Brennaf

Dear mas Jufri,

mas, saya sedang melakukan penelitian tentang zakat, apa boleh saya minta referensi dari mas jufri? insya4Wi referensi dari mas jufri akan saya pergunakan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan referensi dari mas Jufri dapat memberi banyak manfaat bagi orang banyak. Saya juga berharap bisa berdiskusi langsung dengan mas Jufri.

terima kasih

salam hormat megan
megan.brennaf@gmail.com

13 11 2013
arie

Asswrwb.
Mas Jufri, yth
Saat ini saya sedang mempersiapkan proposal disertasi saya tentang permasalahan zakat di Indonesia. Oleh karena itu mohon kiranya saya dapat memperoleh tulisan-tulisan lengkap Mas Jufri terkait dengan tema tersebut. saya akan sangat berterima kasih jika mas bersedia mengirimkannya melalui alamat email saya: nafiah-ariyani@yahoo.com.

Salam hormat,
arie

27 03 2014
zaki

salam. saya juga tertarik mas jufri……. ini email saya dzikri.nabil@gmail.com. syukron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: